Tampilkan postingan dengan label Panoluan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Panoluan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Desember 2011

Tunggal Panaluan

Kisah Tunggal Panaluan ini sangat Daramatis, kisah ini sebenarnya satu nasehat yang penting pada kita. Seorang  Raja Pengukir dan Pelukis pada Zaman Dahulu yaitu Raja Panggana yang terkenal pandai memahat dan mengukir mengadakan pengembaraan keliling negeri. Untuk biaya hidupnya, Raja Panggana sering memenuhi permintaan penduduk untuk memahat patung atau mengukir rumah. Walaupun sudah banyak negeri yang dilaluinya dan banyak sudah patung dan ukiran yang dikerjakannya, masih terasa padanya sesuatu kekurangan yang membuat dirinya selalu gelisah. Untuk menghilangkan kegelisahannya, ia hendak mengasingkan diri pada satu tempat yang sunyi. Di dalam perjalanan di padang belantara yang penuh dengan alang-alang ia sangat tertarik pada sebatang pohon tunggal yang hanya itu saja terdapat pada padang belantara tersebut. Melihat sebatang pohon tunggal itu Raja Panggana tertegun. Diperhatikannya dahan pohon itu, ranting dan daunnya. Entah apa yang tumbuh pada diri Raja Panggana, ia melihat pohon itu seperti putri menari. Dikeluarkannya alat-alatnya, ia mulai bekerja memahat pohon itu menjadi patung seorang putri yang sedang menari. Ia sangat senang, gelisah hilang. Sebagai seorang seniman ia baru pernah mengagumi hasil kerjanya yang begitu cantik dan mempesona. Seolah-olah dunia ini telah menjadi miliknya. Makin dipandangnya hasil kerjanya, semakin terasa pada dirinya suatu keagungan. Pada pandangan yang demikian, ia melihat patung putri itu mengajaknya untuk menari bersama. Ia menari bersama patung dipadang belantara yang sunyi tiada orang. Demikianlah kerja Raja Panggana hari demi hari bersama putri yang diciptakannya dari sebatang kayu. Raja Panggana merasa senang dan bahagia bersama patung putri. Tetapi apa hendak dikata, persediaan makanan Raja Panggana semakin habis. Apakah gunanya saya tetap bersama patung ini kalau tidak makan ? biarlah saya menari sepuas hatiku dengan patung ini untuk terakhir kali. Demikian Raja Panggana dengan penuh haru meninggalkan patung itu. dipadang rumput yang sunyi sepi tiada berkawan. Raja Panggana sudah menganggap patung putri itu sebagian dari hidupnya.

Berselang beberapa hari kemudian, seorang pedagang kain dan hiasan berlalu dari tempat itu. Baoa Partigatiga demikian nama pedagang itu tertegun melihat kecantikan dan gerak sikap tari patung putri itu. Alangkah cantiknya si patung ini apabila saya beri berpakaian dan perhiasan. Baoa Partigatiga membuka kain dagangannya. Dipilihnya pakaian dan perhiasan yang cantik dan dipakaikannya kepada patung sepuas hatinya.
Ia semakin terharu pada Baoa Partigatiga belum pernah melihat patung ataupun manusia secantik itu. dipandanginya patung tadi seolah-olah ia melihat patung itu mengajaknya menari. Menarilah Baoa Partigatiga mengelilingi patung sepuas hatinya. Setelah puas menari ia berusaha membawa patung dengannya tetapi tidak dapat, karena hari sudah makin gelap, ia berpikir kalau patung ini tidak kubawa biarlah pakaian dan perhiasan ini kutanggalkan. Tetapi apa yang terjadi, pakaian dan perhiasan tidak dapat ditanggalkan Baoa Partigatiga. Makin dicoba kain dan perhiasan makin ketat melekat pada patung. Baoa Partigatiga berpikir, biarlah demikian. Untuk kepuasan hatiku baiklah aku menari sepuas hatiku untuk terakhir kali dengan patung ini. Iapun menari dengan sepuas hatinya. Ditinggalkannya patung itu dengan penuh haru ditempat yang sunyi dan sepi dipadang rumput tiada berkawam.

Entah apa yang mendorong, entah siapa yang menyuruh seorang dukun perkasa yang tiada bandingannya di negeri itu berlalu dari padang rumput tempat patung tengah menari. Datu Partawar demikian nama dukun. Perkasa terpesona melihat patung di putri. Alangkah indahnya patung ini apabila bernyawa. Sudah banyak negeri kujalani, belum pernah melihat patung ataupun manusia secantik ini. Datu Partawar berpikir mungkin ini suatu takdir. Banyak sudah orang yang kuobati dan sembuh dari penyakit. Itu semua dapat kulakukan berkat Yang Maha Kuasa.

Banyak cobaan pada diriku diperjalanan malahan segala aji-aji orang dapat dilumpuhkan bukan karena aku, tetapi karena ia Yang Maha Agung yang memberikan tawar ini kepadaku. Tidak salah kiranya apabila saya menyembah Dia Yang Maha Agung dengan tawar yang diberikannya padaku, agar berhasil membuat patung ini bernyawa. Dengan tekad yang ada padanya ini Datu Partawar menyembah menengadah keatas dengan mantra, lalu menyapukan tawar yang ada pada tangannya kepada patung. Tiba-tiba halilintar berbunyi menerpa patung. Sekitar patung diselimuti embun putih penuh cahaya. Waktu embun putih berangsur hilang nampaklah seorang putri jelita datang bersujud menyembah Datu Partawar. Datu Partawar menarik tangan putri, mencium keningnya lalu berkata : mulai saat ini kau kuberi nama Putri Naimanggale. Kemudian Datu Partawar mengajak Putri Naimanggale pulang kerumahnya. Konon kata cerita kecantikan Putri Naimanggale tersiar ke seluruh negeri. Para perjaka menghias diri lalu bertandang ke rumah Putri Naimanggale. Banyak sudah pemuda yang datang tetapi belum ada yang berkenan pada hati Putri Naimanggale. Berita kecantikan Putri Naimenggale sampai pula ketelinga Raja Panggana dan Baoa Partigatiga. Alangkah terkejutnya Raja Panggana setelah melihat Putri Naimanggale teringat akan sebatang kayu yang dipahat menjadi patung manusia. Demikian pula Baoa Partigatiga sangat heran melihat kain dan hiasan yang dipakai Putri Naimanggale adalah pakaian yang dikenakannya kepada Patung, Putri dipadang rumput. Ia mendekati Putri Naimanggale dan meminta pakaian dan hiasan itu kembali tetapi tidak dapat karena tetap melekat di Badan Putri Naimanggale. Karena pakaian dan hiasan itu tidak dapat terbuka lalu Baoa Partigatiga menyatakan bahwa Putri Naimanggale adalah miliknya. Raja Panggana menolak malahan balik menuntut Putri Naimanggale adalah miliknya karena dialah yang memahatnya dari sebatang kayu.

Saat itu pula muncullah Datu Partawar dan tetap berpendapat bahwa Putri Naimanggale adalah miliknya. Apalah arti patung dan kain kalau tidak bernyawa. Sayalah yang membuat nyawanya maka ia berada di dalam kehidupan. Apapun kata kalian itu tidak akan terjadi apabila saya sendiri tidak memahat patung itu dari sebatang kayu. Baoa Partigatiga tertarik memberikan pakaian dan perhiasan karena pohon kayu itu telah menajdi patung yang sangat cantik. Jadi Putri Naimanggale adalah milik saya kata Raja Panggana. Baoa Partigatiga balik protes dan mengatakan, Datu Partawar tidak akan berhasrat membuat patung itu bernyawa jika patung itu tidak kuhias dengan pakaian dan hiasan. Karena hiasan itu tetap melekat pada tubuh patung maka Raja Partawar memberi nyawa padanya. Datu Partawar mengancam, dan berkata apalah arti patung hiasan jika tidak ada nyawanya ? karena sayalah yang membuat nyawanya, maka tepatlah saya menjadi pemilik Putri Naimanggale. Apabila tidak maka Putri Naimanggale akan kukembalikan kepada keadaan semula. Raja Panggana dan Baoa Partigatiga berpendapat lebih baiklah Putri Naimanggale kembali kepada keadaan semula jika tidak menjadi miliknya.

Demikianlah pertengkaran mereka bertiga semakin tidak ada keputusan. Karena sudah kecapekan, mereka mulai sadar dan mempergunakan pikiran satu sama lain. Pada saat yang demikian Datu Partawar menyodorkan satu usul agar masalah ini diselesaikan dengan hati tenang didalam musyawarah. Raja Panggana dan Baoa Partigatiga mulai mendengar kata-kata Datu Partawar. Datu Partawar berkata : marilah kita menyelesaikan masalah ini dengan hati tenang didalam musyawarah dan musyawarah ini kita pergunakan untuk mendapatkan kata sepakat. Apabila kita saling menuntut akan Putri Naimanggale sebagai miliknya saja, kerugianlah akibatnya karena kita saling berkelahi dan Putri Naimanggale akan kembali kepada keadaannya semula yaitu patung yang diberikan hiasan. Adakah kita didalam tuntutan kita, memikirkan kepentingan Putri Naimanggale? Kita harus sadar, kita boleh menuntut tetapi jangan menghilangkan harga diri dan pribadi Putri Naimanggale. Tuntutan kita harus kita dasarkan demi kepetingan Putri Naimanggale bukan demi kepentingan kita. Putri Naimanggale saat sekarang ini bukan patung lagi tetapi sudah menjadi manusia yang bernyawa yang dituntut masing-masing kita bertiga. Tuntutan kita bertiga memang pantas, tetapi marilah masing-masing tuntutan kita itu kita samakan demi kepentingan Putri Naimanggale.

Raja Panggana dan Baoa Partigatiga mengangguk-angguk tanda setuju dan bertanya apakah keputusan kita Datu Partawar ? Datu Partawar menjawab, Putri Naimanggale adalah milik kita bersama. Mana mungkin, bagaimana kita membaginya. Maksud saya bukan demikian, bukan untuk dibagi sahut Datu Partawar. Demi kepentingan Putri Naimanggale marilah kita tanyakan pendiriannya. Mereka bertiga menanyakan pendirian Putri Naimanggale. Dengan mata berkaca-kaca karena air mata, air mata keharuan dan kegembiraan Putri Naimanggale berkata : “Saya sangat gembira hari ini, karena kalian bertiga telah bersama-sama menanyakan pendirian saya. Saya sangat menghormati dan menyayangi kalian bertiga, hormat dan kasih sayang yang sama, tiada lebih tiada kurang demi kebaikan kita bersama. Saya menjadi tiada arti apabila kalian cekcok dan saya akan sangat berharga apabila kalian damai.

Mendengar kata-kata Putri Naimanggale itu mereka bertiga tersentak dari lamunan keakuannya masing-masing, dan memandang satu sama lain. Datu Partawar berdiri lalu berkata : Demi kepentingan Putri Naimanggale dan kita bertiga kita tetapkan keputusan kita : 
  • Karena Raja Panggana yang memahat sebatang kayu menjadi patung, maka pantaslah ia menjadi Ayah dari Putri Naimanggale. 
  • Karena Baoa Partigatiga yang memberi pakaian dan hiasan kepada patung, maka pantaslah ia menjadi Amangboru dari Putri Naimanggale. 
  • Karena Datu Partawar yang memberikan nyawa dan berkat kepada patung, maka pantaslah ia menjadi Tulang dari Putri Naimanggale. 
Mereka bertiga setuju akan keputusan itu dan sejak itu mereka membuat perjanjian, padan atau perjanjian mereka disepakati dengan : 
  1. Bahwa demi kepentingan Putri Naimanggale Raja Panggana, Baoa Partigatiga dan Datu Partawar akan menyelesaikan semua permasalahan yang terjadi dan mungkin terjadi dengan jalan musyawarah. 
  2. Bahwa demi kepentingan Putri Naimanggale dan turunannya kelak, Putri Naimanggale dan turunannya harus mematuhi setiap keputusan dari Raja Panggana, Baoa Partigatiga dan Datu Partawar. 
Baoa Partigatiga yang menjadi amangboru Putri Naimanggale Nasiddah Pangaluan meminang langsung Putri Naimanggale untuk menjadi suami anak yang bernama Guru Hatautan, dan atas persetujuan mereka Guru Hatautan dan Putri Naimanggale Nasindak panaluan pun menikah dan merekapun mengadakan pesta ritual untuk pernikahan ini. Setelah mereka sudah lama kawin sebelum perempuan itu hamil. Perempuan itu sangat lama mengandung. Selama mengandung terjadilah kelaparan di daerah itu. sesudah tiba saatnya, Nan Sindak Panaluan melahirkan dua orang anak kembar, seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan. Kisah ini menjadi aib bagi masyarakat Batak Toba. Anak kembar dengan jenis kelamin berlainan membawa malapetaka pada masyarakat setempat dan sedini mungkin secepatnya dipindahkan. Kemudian Guru Hatautan dan istrinya Nan Sindak Panaluan memberi nama kepada kedua anak kembar itu sesuai dengan adat yang berlaku pada masa itu. Anak laki-laki itu disebut Si Aji Donda Hatautan dan anak perempuan itu disebut Si Boru Tapi Nauasan.

Sesudah acara atau upacara pemberian nama, tokoh-tokoh masyarakat pada waktu itu menganjurkan untuk memisahkan kedua anak itu. Alasannya adalah bahwa kedua anak kembar itu tidak akan mengindahkan norma-norma dan hukum adat dikemudian hari. umumnya sikap dan sifat anak kembar tidak jauh berbeda satu sama lain. Atas dasar pandangan ini masyarakat setempat pada masa itu menghendaki kedua anak kembar itu dipisahkan. Lama-kelamaan anak itu berkembang dan tumbuh dewasa. Rasa cinta dan keakraban tumbuh tanpa disadari kedua orang tersebut.

Pada suatu ketika mereka saling berjalan ke hutan bersama seekor anjing. Rasa cinta yang tumbuh tanpa disadari bergejolak pada saat itu. mereka melakukan hubungan seksual (incest). Sesudah melakukan hubungan yang tabu itu mereka melihat pohon si Tau Manggule yang sedang berbuah. Mereka ingin memakan buah pohon itu. si Aji Donda Hatautan memanjat pohon tersebut dan memakan buahnya. Seketika itu ia melekat pada pohon itu. Kemudian SiTapi Boru Nauasan memanjat pohon tersebut dan memakan buahnya dan ia pun melekat juga pada pohon itu.

Menurut terjadinya tunggal Panaluan merupakan hukuman dari Dewa-dewi, karena kedua anak kembar tersebut melakukan hubungan badan yang tidak sepantasnya. Kedua anak tersebut melekat pada pohon yang sedang berbuah menandakan bahwa Siboru Tapi Nauasan telah mengandung dari kakaknya Si Aji Donda Hatautan.

Sesudah kedua insan itu melekat pada pohon tersebut, mereka berusaha melepaskan diri, namun mereka tidak berhasil. Anjing yang ikut bersama mereka saat itu pergi memberitahukan keadaan kedua insan itu kepada orangtuanya. Guru Guta Balian bersama dengan Datu datang ketempat mereka untuk melepaskan mereka dari pohon tersebut. Beberapa Datu yang lain yang datang kemudian ikut berusaha melepaskan kedua insan itu, namun mereka semua ikut melekat pada pohon Piu-piu Tunggale tersebut. Susunan personil pada Tunggal Panaluan itu adalah: 
  1. Si Aji Donda Hatautan, 
  2. Siboru Tapi Nauasan, 
  3. Datu Pulu Panjang Na Uli, 
  4. Si Parjambulan Namelbuselbus, 
  5. Guru Mangantar Porang, 
  6. Si Sanggar Meoleol, 
  7. Si Upar Manggalele, 
  8. Barita Songkar Pangururan.

Legenda/Mitos terjadinya Tunggal Panaluan diceritakan dengan bentuk ajaran yang dilanjutkan secara turun temurun. Unsur rasionalitas mitos tersebut ialah bahwa Tunggal Panaluan sungguh ada hasil karya seni ukir masyarakat Batak Toba.
Horas
__________

Jumat, 25 November 2011

Tukkot Tunggal Panoluan

Legenda Tunggal Panoluan
Konon di Sianjur Mula-mula, tinggallah seorang laki-laki Gagah dan perkasa beliau bernama Guru Hatia Bulan. Beliau adalah seorang dukun, Datu Pangarata, Datu Pangatiha yang bergelar ‘Datu Arakni Pane Nabolon’. Istrinya bernama Nan Sindak Panaluan.


Telah sekian lama mereka menikah, tetapi  mereka belum juga di karuniai keturunan. Suatu ketika perempuan itu (Nan Sindak Panaluan) hamil setelah begitu lamanya mereka menunggu. Kehamilan tersebut membuat heran semua penduduk kampung itu dan menganggap keadaan itu hal yang gaib (aneh). Bersamaan pada saat itu juga sedang terjadi musim kemarau yang berkepanjangan dan paceklik, cuaca sangat panas dan kering, dengan demikian permukaan tanah dan rawa-rawa pun menjadi retak-ratak dan keras.


Dengan keadaan kemarau yang masih panas yg masih terjadi saat ini, membuat Pemuka (tokoh Masyarakat) kampung itu menjadi risau, lalu mereka pergi menjumpai Guru Hatia Bulan dan berkata kepadanya : 
“Mungkin ada baiknya kita mencari sebabnya dan bertanya kepada Debata Mulajadi Nabolon, mengapa panas dan kemarau ini masih terus berkepanjangan, hal ini sangat jarang terjadi sebelumnya”

Lalu Guru Hatimbulan menjawab :
”Semua ini mungkin saja terjadi”
Tokoh masyarakat mengatakan :
”Semua orang kampung heran mengapa istrimu begitu lama baru hamil, mereka berkata bahwa kehamilannya itu sangat ganjil”

Karena percakapan itu maka timbullah pertengkaran diantara mereka, tetapi tidak sampai ada perkelahian, hanya selisih paham saja.

Di lain waktu tiba saatnya istri Guru Hatia Bulan melahirkan, perempuan itu melahirkan anak kembar, seorang anak laki-laki dan perempuan. 
Dengan kelahiran anak kembar tersebut, seketika itu juga hujan turun dgn lebatnya, maka semua tanam-tanaman dan pepohonan nampak segar kembali dan keadaan menjadi hijau lagi. Dengan perasaan senang Guru Hatia Bulan memotong seekor lembu untuk merayakan hal tersebut dan serta-merta untuk menghalau kuasa jahat.

Ia juga mengundang semua penatua-penatua dan kepala-kepala kampung dalam perjamuan itu, dimana nama anak-anak itu akan di umumkan putranya diberi nama Si Aji Donda Hatahutan dan putrinya itu di beri nama Si Boru Tapi Nauasan.

Usai pesta tersebut, ada beberapa tamu yg telah menasehatkan Guru Hatia Bulan supaya anak-anak itu jangan kiranya di asuh bersama-sama, yang satu kiranya di bawa ke barat dan yang satu lagi di bawa ke timur, sebab anak itu lahir kembar, dan juga berlainan jenis kelamin, hal ini sangat tidak menguntungkan menurut kata orangtua dulu.

Guru Hatia Bulan tidak memandang serta memperhatikan nasehat dari para penatua dan kepala kampung itu. Setelah sekian lama terbuktilah apa yang dinasehatkan oleh para penatua itu, benar apa adanya. Dilain waktu, Guru Hatia Bulan pergi ke lereng Pusuk buhit dan membuat sebuah gubuk di sana, dan membawa anak-anaknya kesana.

Gubuk itu dijaga dengan seekor anjing dan setiap hari Guru Hatia Bulan membawakan makanan untuk anaknya tersebut. Setelah anak-anaknya bertumbuh menjadi besar, pergilah putrinya jalan-jalan ke hutan lalu dilihatnya sebuah pohon yaitu pohon piu-piu tanggulon (hau tadatada), pohon yang batangnya penuh dengan duri, dan mempunyai buah yang masak & manis.


Melihat buah pohon itu, maka timbullah hasratnya untuk memakannya, tetapi sebelum dia naik ke pohon itu, dia mengambil beberapa buah itu dan memakannya. Pada saat itu juga, dia tertelan dan menjadi satu dgn pohon itu hanya kepalanya saja yg terlihat (tersisa). Di tempat lain abangnya Si Aji Donda Hatahutan gelisah menunggu adiknya pulang, kenapa sampai sore belum juga pulang-pulang adiknya. Diapun pergi ke dalam hutan untuk menyelidikinya sambil berteriak memanggil-manggil nama adiknya itu. Saat dia sudah merasa letih, tiba-tiba dia mendengar jawaban dari adiknya dari pohon yg berdekatan dengan dia, dan adiknya menceritakan apa yang terjadi, sehingga dia tertelan oleh pohon tersebut.

Si Aji Donda memanjat pohon itu, tetapi dia pun ikut ditelan dan menjadi satu dengan pohon itu. Keduanya menangis untuk meminta tolong, tetapi suara mereka hilang begitu saja di dalam gelapnya hutan. Keesokan paginya, anjing mereka lewat dan meloncat-loncat pada pohon tada-tada itu, lalu anjing itupun mengalami hal yang sama, tertelan oleh pohon itu hanya kepalanya saja yang terlihat.

Seperti biasa si Guru Hatia Bulan datang ke gubuk anaknya untuk membawakan mereka makanan, tapi dia tidak menemui mereka, lalu dia mencari dan mengikuti jejak kaki anaknya ke dalam hutan, sampai pada akhirnya dia menemui pohon duri tada-tada tersebut dan dimana dia hanya melihat kepala dua orang anak-anaknya dan anjing penjaga. Melihat hal itu diapun menjadi sedih.


Dia menceritakan ini pada kawannya maka kawannya mempertemukan dia dengan seorang datu yg bernama Datu Parmanuk Koling, dia menceritakan kejadian itu dan mengajak datu itu ke pohon tadi untuk menolong anaknya, diiringi oleh banyak orang yg ingin melihat, karena kejadian ini sudah tersebar ke berbagai pelosok dan pemusik pun sudah dipanggil lalu si Datu memulai ritualnya, si datu berdoa dan membaca mantra untuk membujuk roh yang menawan anak si Guru Hatia Bulan, setelah upacara selesai maka naiklah si Datu Parmanuk koling ke pohon itu, tetapi hal yg sama juga terjadi, dia tertelan oleh pohon itu. Guru Hatia Bulan dan para rakyat kembali ke rumah mereka dengan hati kecewa, tetapi mereka tidak putus asa, mereka tetap berusaha mencari jalan keluarnya dengan mencari datu lain. 

Kemudian Guru Hatia Bulan mendengar kabar ada datu yang masyur, namanya Guru Marangin Bosi atau Datu Mallantang Malitting. Orang itu pergi ke pohon tersebut, tetapi mengalami nasib yang sama juga.

Kemudian ada juga datang Datu Horbo Marpaung, dia juga menjadi tawanan si pohon itu. Hal yang sama juga terjadi kepada  Si Aji Bahir (Jolma so Begu) yang mana setengah manusia dan setengah roh, juga pada Datu  Si Baso Bolon. Seekor ular panjangpun meloncat juga di telan pohon itu. 

Guru Hatia Bulan sudah kehabisan akal karena ia telah mengeluarkan begitu banyak uang untuk keperluan pemusik (gondang), pele-pelean, dan semua yang diminta para datu itu untuk roh yang ada di pohon tersebut.

Beberapa hari setelah itu, seorang datu, bernama Si Parpansa Ginjang memberitahukan pada Guru Hatia Bulan bahwa dia dapat membebaskan kedua anaknya dari tawanan pohon itu, Asalkan Guru Hatia Bulan mempercayai omongan si datu itu dan menyediakan semua apa yang diminta oleh si datu. 
Si datu berkata bahwa kita harus memberikan persembahan kepada semua roh, roh tanah, roh air, roh kayu dan lainnya baru kemudian bisa membebaskan kedua anak tersebut.

Guru Hatia Bulan mempersiapkan semua yang diperlukan oleh si datu untuk upacara tersebut sesuai dengan arahan si datu. Sesuai Petunjuk Datu mereka pergi menemui pohon itu disertai oleh orang kampung sekitarnya. Setelah si datu selesai memberikan mantra kepada senjata wasiatnya, lalu dia menebang pohon itu tetapi semua kepala orang yang ada di pohon tersebutpun jadi menghilang, begitu juga anjing dan ular yang tertelan pohon tersebut tadi. Semua orang yang menyaksikan seperti terperanjat, lalu si datu berkata kepada Guru Hatia Bulan: "Potonglah pohon itu menjadi beberapa bagian dan ukirlah gambaran dari orang-orang yg ditelan oleh pohon ini”. 
Guru Hatia Bulan memotong batang pohon itu menjadi beberapa bagian dan mengukirnya menjadi sebuah tongkat dengan bentuk 5 orang lelaki, 2 orang anaknya, 1 seperti manusia seekor anjing dan seekor ular.

Setelah selesai mengukir tongkat tersebut sesuai dengan wajahnya, maka semua orang kembali ke kampung Guru Hatia Bulan, ketika mereka tiba di kampung ditandai dengan bunyi gong, Dia juga mengorbankan seekor lembu untuk menghormati mereka yang di ukir dalam tongkat tersebut. Setelah Guru Hatia Bulan selesai manortor maka tongkat itu diletakkan membelakangi muka lumbung padi. Sekarang Giliran datu Parpansa Ginjang manortor (menari), melalui tortor ini dia kesurupan, dirasuki roh-roh dari orang-orang yang pernah ditelan pohon itu dan mulai berbicara satu-persatu, mereka adalah roh dari:

1. Si Aji Donda Hatahutan.

2. Siboru Tapi Nauasan.

3. Datu Parmanuk Koling yaitu Datu Pulo Punjung nauli.

4. Guru ManggantarPorang yaitu Guru MaranginBosi Si Datu Mallatang-maliting.

5. Si Sanggar Meoleol yaitu Datu Horbo Paung.

6. Si Upar mangalele yaitu Datu Siparjambulan Melbus-elbus.

7. Barita Songkar Pangururan yaitu Si Aji Bahir (Jolma So Begu).
8. Datu Si Baso Bolon.
9. Anjing dan ular

Dan mereka berkata, “Wahai bapak pemahat, kau telah membuat ukiran dari wajah kami semua dan kami punya mata, tetapi tidak bisa melihat, kami punya mulut tetapi tidak bisa bicara, kami punya telinga tapi tidak mendengar, kami punya tangan tapi tidak bisa menggenggam, kami mengutuk kamu, wahai pemahat!. Si datu menjawab, “Jangan kutuk aku, tetapi kutuklah pisau ini tanpa pisau ini aku tidak dapat mengukir wajah kalian”. Tetapi si pisau berbalik membalas, “Jangan kutuk aku, tetapi kutuklah si tukang besi, kalau saja dia tidak menempa aku menjadi pisau, aku tidak akan pernah menjadi pisau”. Si tukang besi pun tidak ingin disalahkan lalu berkata, “Jangan kutuk aku tapi kutuklah Angin, tanpa angin aku tidak dapat menempa besi”. Angin pun menjawab,”Jangan kutuk kami tapi kutuklah si Guru Hati Bulan”. ketika semua tertuju pada Guru Hati Bulan, maka roh itu berkata melalui si datu, “Aku mengutukmu, Ayah dan juga kamu Ibu, yaitu yang melahirkan aku”.

Ketika Guru Hatimbulan mendengar itu, dia menjawab balik, “Jangan kutuk aku tetapi kutuklah dirimu sendiri. Kau yang jatuh ke dalam lubang dan terbunuh oleh pisau dan kamu tidak mempunyai keturunan”.

Lalu Roh itu berkata: “Baiklah, biarlah begini adanya, ayah, dan gunakanlah aku untuk: menahan hujan, memanggil hujan pada waktu musim kering, senjata di waktu perang, mengobati penyakit, menangkap pencuri, dan menghalau wabah Penyakit"

Setelah upacara itu, maka pulanglah mereka masing-masing. Adapun tinggi tongkat Tunggal Panaluan sekitar 170-179 cm dan biasanya dimiliki oleh Datu Bolon (dukun besar) yang punya ilmu cukup tinggi.

Demikianlah Legenda Tunggal Panoluan

Kamis, 24 November 2011

Versi Tunggal Panaluan

Tongkat Tunggal Panaluan 
Versi Lain


Tunggal Panaluan adalah satu Tongkat warisan leluhur Batak oleh semua  suku Batak tongkat ini diyakini memiliki kekuatan gaib, sulu i nagolap tukkot di nalandit fungsinya untuk: 
  • Membantu dalam peperangan.
  • Meminta hujan, 
  • Menahan hujan (manarang udan), 
  • Menolak bala, 
  • Menghalau Wabah, 
  • Mengobati penyakit,
  • Petunjuk dalam satu Ugasan tertentu.
  • Mencari dan menangkap pencuri,

Kisah Tongkat Tunggal Panaluan juga bervariasi. Salah satu kisahnya sebagai berikut :

Sepasang suami istri yaitu Datu Baragas Tunggal Pambarbar Na Sumurung (ahli ukir) dan istrinya Nan Sindak Panaluan, sudah lama menikah tapi belum dikaruniai anak. Mereka menanyakan hal tersebut kepada ahli ramal, ahli ramal menganjurkan agar mengganti patung-patung yang ada di rumahnya dengan yang lebih cantik. Maka pergilah Datu Baragas kehutan untuk mencari kayu yang cocok dijadikan patung, tetapi berhari-hari lamanya tidak ditemukan. Suatu saat ia (Baragas Tunggal) melihat di udara pohon melayang-layang tanpa cabang, daunnya kira-kira setinggi manusia. Baragas memohon kepada Mulajadi agar pohon tersebut diturunkan ke bumi dan ternyata dikabulkan. Pohon tersebut turun tepat ditempat peristirahatan (perberhentian) yang disebut Adian Naga Tolping. Baragas mengambilnya serta mulai mengukir sehingga berbentuk seorang gadis disebut Jonjong Anian. Setelah selesai, ia bermaksud membawa pulang, tetapi tidak dapat diangkatnya.

Beberapa hari kemudian saudagar kain dan perhiasan lewat lalu beristirahat ditempat tersebut. Saudagar melihat betapa cantiknya patung tersebut bila dikenakan pakaian dan perhiasan lengkap. Ia kemudian mengenakan pakaian, selendang, kerabu, kalung, gelang dan kancing emas. Ketika hendak pulang barang-barang tersebut tidak dapat dibuka walau dengan cara apapun. Lalu ia pulang dengan hati yang sangat kesal. Tersiarlah berita sampai keseluruh negeri dan sampai pada dukun Nasumurung Datu Pangabng-abaang Pangubung-ubung yaitu dukun yang dapat menghidupkan kembali yang mati atau menyegarkan yang busuk. Sang dukun pergi ketempat patung tersebut dengan membawa obat berkhasiat adapun tindakan yang dilakukan dukun itu adalah:
  • Meneteskannya ke mata patung, matanya langsung berkedip, 
  • Diteteskan kehidung terus bersin, 
  • Diteteskan lagi ke bibir sehingga komat-kamit, 
  • Diteteskan ke mulut terus dapat berbicara, 
  • Diteteskan ke telinga maka ia mendengar, 
  • Terakhir kesegala persendian, pergelangan tangan maupun kaki sehingga dapat bergerak dan berjalan.
Sehingga patung tersebut menjadi seorang gadis cantik jelita yang dapat berbuat seperti manusia, merasa seperti manusia dan juga berpikir layak manusia, diberi nama siboru Jonjong Anian Siboru Tibal Tudosan.

Datu Nasumurung membangun rumah untuk tempatnya bertenun yang dikawal harimau, babi dan anjing, tangga rumahnya dibuat dari pisau-pisau yang tajam. Banyak pemuda yang simpati padanya tapi untuk bertemupun tidak bisa, namun seorang pemuda berhasil memikat hatinya yang bernama Guru Satean Bulan dan sepakat untuk melaksanakan perkawinan. Berita itu tersebar luas diseluruh negeri dan sampai kepada Baragas (sipembuat patung), lalu mendatangi datu Pangabang-abang yang menanyakan hal itu. Terjadilah perselisihan antara sipembuat patung (pengukir), datu yang menghidupkan dan saudagar yang masing-masing mengatakan bahwa siboru Jonjong Anian adalah putrinya.
Perselisihan itu ditengahi oleh Si Raja Bahir-bahir (seorang penyumpit) yang menyatakan :
  • Baragas (pengukir)  pantas menjadi ayahnya, 
  • Saudagar kaya  menjadi bibinya,
  • Datu Pangabang-abang menjadi pamannya. 

Pendapat itu disetujui dan perkawinanpun dilaksanakan. Beberapa lama kemudian, Siboru Jonjong Anian mulai mengandung (hamil). Selama hamil Guru Satean Bulan senantiasa memenuhi permintaannya agar kelak tidak menjadi Abat-abat (halangan), walaupun permintaan tersebut terasa aneh dan menurut dia janggal. 
Ternyata kehamilannya diluar kebiasaan yaitu selama 12 bulan, setelah lahir ternyata kembar dua (marporhas), laki-laki dan perempuan, Guru Satean Bulan melaksanakan pesta pemberian nama (martutu aek). 
Yang laki-laki dinamai Aji Donda Hatahutan Situan Parbaring dan adiknya si Tapi Nauasan Siboru Panaluan.

Tongkat Tunggal Panaluan dibuat setelah Ajibonda Hatautan dan Boru Tapinauasan, kembar lain jenis. Keturunan Guru Satean Bulan dan Siboru Jonjong Anian melakukan hubungan inses saat mereka beranjak dewasa.
Takut untuk pulang ke rumah orang tua mereka, Ajibonda Hatautan dan Boru Tapi Nauasan memilih tinggal di tengah hutan.
Celaka, mereka berdua malah lengket di pohon tersebut bersana-sama, dengan 7dukun dan binatang yang dikerahkan oleh Guru Satean Bulan untuk membebaskan putra dan putrinya, agar tetap bersama mereka. Guru Satean Bulan menyuruh seseorang untuk membuat tongkat panjang dari batang pohon tersebut. Tongkat itulah yang kemudian diberi nama Tongkat Tunggal Panaluan.

Horas

Kamis, 05 Mei 2011

Oknum Tunggal Panaluan

Orang yang menjadi tongkat dalam Tunggal panaluan itu adalah:

—Si Aji Donda Hatahutan
—Si Boru Tapi Nauasan
—Datu Panpang Niobungan
—Datu Parhorbo Paung Nabolon
—Guru Marangin Bosi
—Datu Si Aji Bahir
—Boru Sibaso Bolon

Dua kejadian dalam tongkat tersebut yakni:
—Manusia menggigit ekor kadal (ilik=Si Raja Odong)
—Ular menggigit ekor cecak (boraspati)

Kejadian di atas adalah kejadian di samping kejadian utamanya yg mana peran utamanya Kisah Si Aji Donda Hatahutan dan Si Boru Tapi Nauasan.

SLR_MALAU

Jumat, 08 April 2011

Fungsi Tunggal Panaluan

Tunggal Panaluan adalah tongkat Nenek moyang orang batak dahulu kala khususnya siraja batak tongkat tersebut berfungsi untuk:
1. Memanggil hujan (mendatangkan hujan)
2. Menyembuhkan orang sakit, menjauhkan kebusukan
3. Mengusir roh-roh halus
4. Mendatangkan berkah lain
5. Penjaga rumah/Kampung 

Tunggal Panaluan di ukir dari kayu dan proses pengerjaanya tidak sembarangan dibuat, ada ritual-ritual tertentu untuk membuatnya seperti:
-itak
-renteng manuk
-kemiri
-sirih
-pangurason
-juga mengadakan puasa

Yang semuanya mengandung nilai mistis atau kekuatan gaib jadi hasilnya pun memadai dan kekuatanya pun tidak diragukan. Namun copy atau duplikat tongkat ini sangat banyak dijual yang menjadi sofenir atau cendra mata untuk kepentingan hiburan ataupun koleksi pribadi.

Dimanakah kita dapat yang aslinya?
Bisa aja ada tapi memang sulit dan langka didapat, kebanyakan di jual ke luar negeri untuk mendapat uang banyak. 

Bagi orang- yang mengetahui fungsi dan kasiatnya benda ini pasti dimanfaatkanya. Namun banyak mengetahui hal tersebut tidak mau tau juga karena tidak sesuai dengan agamanya dan kepercayaanya lagi, pada hal itu kan warisan leluhur kita,,,,, seharusnya kita melestarikannya.

By: Shelyr Malau