Tampilkan postingan dengan label Laklak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Laklak. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Desember 2011

Laklak Simalungun

Pustaha Laklak Simalungun

Pustaha Laklak Simalungun, sebagian besar membahas dunia metafisis ala Simalungun seperti Tabas-tabas (mantera – mantera), Takkal ni Bisa ( Penawar Racun/santet dan tata cara meracun/santet), Pulungan (Jamu-jamuan), Panjahaion Ompak ni Ipon (Pelajaran Memprediksi dgn serpihan gigi), Panjahaion Parsopoan (Pelajaran Fengshui ala simalungun), Rajah, hari baik dan sebagainya.
Disini saya menukil hanya sekelumit contoh tentang isi Pustaha Laklak simalungun, misalnya: 

1. Tentang Fengshui:
“Jaha sopo iholang-holang batang-batang sada, janah abing reben i desa otara Rohma naosuman bani oppungni sopou, matean oppung ni sopo ale amang datu.
Jaha sopou ipajongjong bani suhi-suhi dalan nabolon topat bani topi dalan, rohma nasosuman bani oppunganni sopou inon. Buei marsilaosan begu monggop bani sopou inon, matean oppungni sopou inon”.
kira-kira bermakna:
“Jika sebuah bangunan didirikan diapit balok besar, satu diantara balok terletak pada kemiringan di sebelah utara bangunan, pemiliknya tidak akan berhoki.
Jika bangunan ditepi jalan raya pada posisi sudut jalan umum, maka pemilik akan ditimpa musibah karena banyak dilintasi energi negatif”. 

2. Tentang Santet:
Memakai bahan kulit Harimau, Tanah Kuburan dari Pusara yg baru satu hari, kulit Musang, Tali Pengikat Senjata Tajam, Buah Enau yg berjatuhan dan Pucuk kain Pangulu Balang.
semua Bahan disatukan dan dimasukkan kedalam Labu Muda sebagian, dan sebagian disatukan dengan kulit Harimau serta sebagian untuk bahan taburan. Lalu Manterai dan kemudian disemburkan pada bahan kulit Harimau dan Labu Muda:
“surung maho botara ni pangulu balang nina gurunghu, pangulu balang ni pagar pangorom, amani si porhas manoro, inani si porhas manoro botara porhas manoro, surung porhas manoro dihosah ni musuhu…., surung bunuh ni…..surung ma ho botara pangulu balang nina gurunghu” 

3. Tentang Pelet:
Salah satu cara pelet dengan ramuan yaitu menggunakan bahan yang melekat pada kayu, yang melekat pada batu, yang melekat di pohon enau, pada lumpang, serta segala sesuatu yang bersifat lengket. Seluruh bahan digiling halus.


Aksara Pustaha Laklak Batak
Pustaha Laklak memakai bahasa dan Aksara Batak. Aksara Batak yang mempunyai ciri-ciri tersendiri antara Batak Toba, Simalungun, Karo, Pakpak, Mandailing/Angkola (di Simalungun disebut Puang ni Surat Sapuluh Siah karena berjumlah 19 huruf)

A, Ha, Ba, Pa, Na, Wa, Ga, Ja, Da, Ra, Ma, Ta, Sa, Ya, Nga, La, I, U dan Nya. 

Untuk membentuk menjadi satu kata, terkadang dibutuhkan pangolat ( anak huruf sebagai tanda baca), seperti dlm contoh: kata “Ki Sawung”, dibutuhkan huruf Ha (bs bermakna Ka), huruf Sa, Wa dan Nga. 
Huruf Ha diberi anak huruf agar berbunyi Ki, Sa tetap, huruf Wa dan Nga diberi anak huruf kemudian di gabungkan karena bersuku kata sama sehingga berbunyi WUNG.
Dalam sebuah Pustaha laklak Simalungun, ada Tabas (mantra) yang menggunakan Bahasa Huruf, begini bunyi mantranya:
“A, Ha, Ba, Pa, Na, Wa, Ga, Ja, Da, Ra, Ma, Ta, Sa, Ya, Nga, La, I, U, Nya, harannya hita sabapa sainang sanawa, nini pormula jadi ni surat sapulu siyah, samula, sumili yah na ho begu, sumala sumili, yah ho aji ni halak. Borkat ma hamu Guru Sinalisi, na miyan Naibata diyatas, borkat mahamu Guru Siniyaman, na miyan Naibata ditongah, borkat ma hamu Guru Mangontang Dunia, na miyan Naibata ditoruh, harannya ham na mampogang hanami manusiya, pogang begu, pogang aji ni halak, iya ma tuwanku jungjunganku”.
Mantera ini untuk menjauhkan kejahatan dan guna-guna.

Diyakini, Aksara Simalungun ini memiliki pemimpin-pemimpin gaib, dalam pustaha laklak diterangkan nama – nama pemimpin2 gaibnya yaitu:
  1. RAJA I DABIYA, 
  2. TUAN DIBORAKU, 
  3. ASAL NABU, 
  4. SITUNAGORI, 
  5. TUWAN NABI ALLI, 
  6. ALAM SADIYA, 
  7. ALAM SADIA SAH, 
  8. ALAM JAHARI, 
  9. TUWAN MARJANDIHI, 
  10. RAJA SIPORAT NANGGAR, 
  11. RAJA ENDAH DUNIYA, 
  12. RAJA DI PUSUK SUNGEI, 
  13. TUWAN NABI ALI MUHAMMAD, 
  14. TUWAN SI NAHAR NANGKIR, 
  15. OMPUNG ANGLAH TAALA, 
  16. PUWANG AJI BORAIL. 

Bagi murid-murid yang belajar dunia spiritual Simalungun, dianjurkan untuk menghormati pimpinan-pimpinan gaib dari abjad di atas, dengan ritual khusus yg menyediakan sesaji berupa Ayam Merah yang disusun diatas daun dan diletakkan di tikar yang masih baru, sira pege yaitu cocolan garam, lada dan jahe 7 iris, bunga kembang sepatu 7 tangkai. Semua bahan ini dilingkari dengan benang putih. Masih dalam pustaha laklak, bahan diatas dilengkapi dengan bahan seperti:  
  • nira, 
  • air, 
  • rudang, 
  • minyak saloh, 
  • beras sangrai yang dibuat tepung, 
  • 19 lembar sirih, 
  • kue nitak (tepung beras dicampur gula aren) 
  • serta huruf-huruf yang telah disediakan. 

Seluruh murid mengelilingi tikar tempat sesaji dan huruf yang diletakkan, lalu sang guru membacai mantra:
“Borkat ma hamu RAJA I DABIYA, Borkat ma hamu TUAN DIBORAKU, Borkat ma hamu ASAL NABU, Borkat ma hamu SITUNAGORI, Borkat ma hamu TUWAN NABI ALLI, Borkat ma hamu si ALAM SADIYA, Borkat ma hamu si ALAM SADIA SAH, Borkat ma hamu si ALAM JAHARI, Borkat ma hamu TUWAN MARJANDIHI, Borkat ma hamu RAJA SIPORAT NANGGAR, Borkat ma hamu RAJA ENDAH DUNIYA, Borkat ma hamu RAJA DI PUSUK SUNGEI, Borkat ma hamu TUWAN NABI ALI MUHAMMAD, Borkat ma hamu TUWAN SI NAHAR NANGKIR, Borkat ma hamu OMPUNG ANGLAH TAALA, Borkat ma hamu PUWANG AJI BORAIL, harannya ham Puwang ni Surat Sapuluh Siyah, na mannaikhon hosah, iya Tuwanku Jungjunganku”. 

Lalu murid disuruh memilih huruf yang disukainya secara intuitif. Huruf inilah yang bisa dijadikannya sebagai washilah berupa jimat dan sebagainya untuk menyatukan diri dengan alam gaib. huruf yang dipilih bisa di jadikan mantra handalan. Dalam Pustaha Laklak, ada beberapa mantra yang digunakan dengan membaca huruf yang dipilih tadi, membacanya dengan mandoding yaitu bersenandung, misalnya untuk Pagar Pertahanan.

rajah-abc
Di dalam pustaha laklak juga banyak memuat rajah-rajah untuk kepentingan ritual supranatural. Di gambar atas ada beberapa contoh rajah yang bisa dipergunakan, yaitu: pada gambar (a), (b) & (c) adalah merupakan rajah pulungan ni bulung-bulung tawar atau ramuan daun-daun tawar yang dikutip dari Pustaha Laklak Simalungun. 
Rajah (a) berfungsi untuk menyerang paranormal yang membuat seseorang lama berumah tangga, 
Rajah (b) untuk meminta bantuan gaib Tuan Sordibanua, 
Rajah (c) ditulis di daun kincung untuk penghukum dan sekaligus bisa untuk pengasih,
Rajah (d) yang saya kutip dari Pustaha Laklak Simalungun adalah berfungsi untuk santet.

Rajah-rajah dalam Pustaha Laklak, merupakan ornamen indah bergaya Batak, namun ada juga pengaruh kebudayaan non-Batak, seperti unsur Melayu-Islam. Coba kita amati beberapa Rajah Simalungun berikut, yang saya ambil dari sebuah Pustaha Laklak Simalungun:
rajah-simalungun 

Disamping memuat hal ikhwal Supranatural dan pengobatan, Pustaha Laklak juga memuat hal lain; seperti Pustaha simalungun “Parpadanan na Bolag” yang mengisahkan asal usul marga Damanik sebagai Penguasa Dinasti Nagur. Pustaha ini mungkin saja ditulis oleh pejabat kerajaan atau bisa saja ditulis orang luar kerajaan pada masa atau akhir keruntuhan kerajaan pada penghujung abad XIV, kesemuanya bertujuan Habonaron do Bona yaitu Kebenaranlah yang mesti ditegakkan.
_________________________________________________
Horas
BATAK

Hadatuon_01

Hadatuon Batak
Prihal ilmu Supranatural (Hadatuon), dalam Pustaha Laklak bisa kita kelompokkan berbagai Ilmu-Ilmu Supranatural Batak, sebagai berikut:
  1. Pangulubalang
  2. Tunggal Panaluan
  3. Pamunu Tanduk
  4. Pamodilan/Tembak
  5. Gadam
  6. Pagar
  7. Sarang Timah
  8. Simbora
  9. Songon
  10. Piluk-piluk
  11. Tamba Tua
  12. Dorma
  13. Paranggiron
  14. Porsili
  15. Ambangan
  16. Pamapai Ulu-ulu
  17. Ramalan Perbintangan (Pormesa na Sampulu Duwa, Panggorda na Ualu, Pehu na Pitu, Pormamis na Lima, Tajom Burik, Panei na Bolon, Porhalaan, Ari Rojang, Ari na Pitu, Sitiga Bulan, Katika Johor, Pangarambui dan lain-lain),
  18. Ramalan memakai Binatang, (Aji Nangkapiring, Manuk Gantung, Aji Payung, Porbuhitan, Gorak-gorahan Sibarobat dan lain-lain),
  19. Ramalan Rambu Siporhas, Panambuhi, Pormunian, Partimusan, Hariara masundung di langit, Parsopouan, Tondung, Rasiyan, dan sebagainya.
Banyak kita temukan ilmu untuk menyerang musuh dan santet, bisa dalam bentuk racun ataupun ilmu lainnya
Masyarakat Rumpun Batak, dahulu, menggunakan tulisan hanya untuk:
1. Ilmu Supranatural (Hadatuon)
2. Surat (kebanyakan bentuk surat ancaman)
3. Bagi Orang Karo, simalungun dan Angkola-Mandailing, ada ditemukan karya Sastra berbentuk Ratapan (Orang Karo menyebutnya Bilang-Bilang, Simalungun: Suman-Suman, Tangis-tangis, Angkola-Mandailing: Andung), Karya Sastra berbentuk ratapan ini biasa ditulis pada wadah bambu atau lidi tenun.

1. Pangulu Balang
Pangulu Balang yaitu prajurit yang dijadikan hulubalang Sang Datu (Dukun) untuk menghancurkan musuh
Seorang anak kecil diculik, lalu diasuh oleh si Datu. Segala maunya dituruti asal bisa patuh. Pada saat yang ditentukan, kemudian sianak dikorbankan, dgn cara dimasukkan kedalam mulutnya berupa cairan timah yang mendidih. Kemudian mayatnya dipotong-potong dan dicampur dgn beberapa ramuan dan dibiarkan membusuk. Air fermentasi yang keluar dari mayat anak tadi disimpan didalam cawan, lalu sisanya dibakar untuk mendapatkan abunya. Untuk memanggil Sianak yang sudah dikorbankan tadi, disiapkanlah patung. Patung inilah yg disebut Pangulubalang. Patung ini berfungsi untuk penolak bala, sedang datu bisa memanfaatkannya untuk disuruh menyerang musuh, berupa santet.

2. TUNGGAL PANALUAN,
berupa tongkat sakti yang dimiliki Datu-datu Batak, diyakini bahwa tongkat ini hidup dan bisa disuruh.

3. PAMUNU/PEMBUNUH TANDUK,
ilmu yg berfungsi untuk menetralkan ilmu kiriman lawan. bisa juga digunakan untuk menyerang musuh. ini berupa tanduk.

4. PAMODILAN/TEMBAK,
adalah ilmu yg digunakan untuk menembak musuh baik dengan menggunakan senjata (bodil) maupun dengan syarat atau tabas-tabas (mantra) tanpa menggunakan senjata.

5. GADAM,
ilmu racun sehingga kulit musuh akan seperti penderita kusta. 
6. PAGAR (PENOLAK BALA),
 Okultisme Batak ini, dibuat dari berbagai bahan dengan waktu dan cara pembuatannya yg sangat mengikuti prosesi ritual. Biasanya menggunakan ayam, lalu bahan dibawa ke tempat yang dianggap keramat (sombaon, sinumbah).
 Okultisme Batak ini, dibuat dari berbagai bahan dengan waktu dan cara pembuatannya yg sangat mengikuti prosesi ritual. Biasanya menggunakan ayam, lalu bahan dibawa ke tempat yang dianggap keramat (sombaon, sinumbah).
 Penggunaan penolak bala ini, biasanya diberikan pada pasien perorangan ataupun kolektif, seperti; Pagar Panganon (Ilmu tolak bala berupa makanan yg wajib dimakan pasien), Pagar Sihuntion (dijunjung atau digantung oleh perempuan hamil), Pagar ni halang ulu modom ( Digantung didekat tempat tidur org yg sakit), Pagar Sada bagas (Tolak bala sekeluarga), Pagar Sada huta (Ruwatan Kampung).
6. AZIMAT,
Dulu Orang Batak akan lebih ‘pede’ jika pakai jimat. Kontribusi Aceh, Melayu Sumatera Timur dan Minangkabau sangat besar terhadap keberadaan jimat bagi Orang Batak. Simbora adalah azimat asli Batak yang terbuat dari timah hitam.
Selain itu, kita temukan juga azimat dari gigi binatang; seperti harimau, beruang. Ada juga jimat agar tidak mempan peluru yg biasa terbuat dari tulang kerbau yg dirajahi; azimat ini disebut Sarang Bodil atau Sarang Tima.

7. SONGON/POHUNG/PILUK-PILUK,
Adalah sejenis patung (gana-gana) yang diletakkan di ladang untuk melindungi dari pencuri.
“Surung ma ho Batara Pangulubalang ni pohungku, ama ni pungpung jari-jari, ina ni pungpung jari-jari, Batara si pungpung jari. Surung pamungpung ma jari-jari ni sitangko sinuanku onon, surung bunu”, ini adalah mantra (tabas) Pohung agar pencuri menjadi lumpuh jari-jarinya, bahkan mati.
___________________________________

Jumat, 25 November 2011

Pustaha Laklak

PUSTAHA LAKLAK

1. Pendahuluan
Arkeologi sebagai disiplin ilmu selalu mengalami perubahan dari masa ke masa. Disiplin ilmu ini tidak dapat lagi membatasi diri hanya pada permasalahan yang berhubungan dengan masa lalu, tetapi harus juga mengikuti arus perkembangan masyarakat di masa sekarang dan masa depan. Peran serta masyarakat terhadap bidang kajian arkeologi tidak dapat dipungkiri keberadaannya. Sebagai bentuk tanggung jawab keilmuan, maka sudah sepantasnyalah arkeologi turut berperan dalam pembangunan. Salah satu caranya adalah dengan menunjukkan dan memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang peran dan manfaat arkeologi bagi masyarakat itu sendiri, baik menyangkut disiplin ilmu maupun objek kajian.
Muncul dan berkembangnya bidang kajian arkeologi publik dewasa ini merupakan suatu bentuk kepedulian disiplin ilmu arkeologi kepada masyarakat. Dalam kajian arkeologi publik, yaitu kajian yang membahas mengenai hal-hal yang berkaitan dengan mepresentasi hasil penelitian arkeologi kepada masyarakat, terdapat tiga pihak utama yang berperan penting. Dalam hal ini adalah pihak pemerintah, akademisi, dan publik atau masyarakat.
Berkaitan dengan hal tersebut, seperti yang baru-baru ini diketahui, pemerintah dalam usahanya meningkatkan kualitas dan pendapatan negara membuat suatu gagasan tentang pengenalan industri kreatif.
Pada tanggal 22 Desember 2008, pemerintah mencanangkan tahun 2009 sebagai ‘Tahun Indonesia Kreatif’ yaitu industri yang bergerak melalui pengembangan ide-ide kreatif. Industri kreatif dipahami sebagai industri yang berasal dari pemanfaatan kreativitas, ketrampilan, serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan kerja dengan menghasilkan dan mengeksploitasi daya kreasi dan daya cipta industri tersebut. Menurut metode penghitungan dengan menggunakan data sekunder yang berbasis KBLI (Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia) dari BPS (Badan Pusat Statistik) setidaknya terdapat 14 subsektor yaitu:
  1. periklanan, 
  2. arsitektur, 
  3. pasar seni dan barang antik, 
  4. kerajinan, 
  5. desain, 
  6. fashion, 
  7. video film dan fotografi, 
  8. permainan interaktif, 
  9. musik, 
  10. seni pertunjukan, 
  11. penerbitan dan percetakan, 
  12. layanan komputer dan piranti lunak, 
  13. televisi dan radio, 
  14. riset dan pengembangan. 
Hal ini dapat dilihat sebagai sebuah peluang untuk mengembangkan ide-ide kreatif yang nantinya dapat menjadi komoditas industri berkaitan dengan kekayaan budaya masyarakat setempat. Adapun arkeologi dapat menjadi motor penggerak dalam pengembangan industri kreatif terutama yang menyangkut tentang kebudayaan.
Meskipun program industri kreatif baru dicanangkan, namun apabila dilihat di beberapa tempat khususnya Sumatera Utara, dalam usaha pengenalan objek wisata sudah banyak yang dilakukan baik oleh pemerintah maupun masyarakat setempat dalam mengembangkan industri kreatif ini. Misalnya, Danau Toba yang merupakan salah satu ikon Sumatera Utara, dalam usaha pengenalan objek wisata kepada msyarakat luas, bahkan sampai mancanegara, salah satunya dengan melalui pembuatan souvenir. Menurut Tesaurus Bahasa Indonesia, souvenir diartikan cindera / cindur / tanda mata, kenang-kenangan, sagu hati. Souvenir memiliki arti penting bagi wisatawan yang datang ke sebuah objek wisata. Selain kepuasan menikmati objek wisata yang mempesona, souvenir digunakan sebagai kenang-kenangan untuk mengenang bahwa wisatawan pernah berkunjung ke objek wisata tersebut. Selain itu, souvenir dapat juga dijadikan sarana publikasi dan promosi objek wisata agar mampu menarik wisatawan lain untuk berkunjung ke tempat tersebut. Souvenir dapat bermacam-macam mulai dari benda-benda modern sampai barang-barang antik dan khas, atau miniatur dari obyek wisata itu sendiri. Beberapa di antaranya dapat berupa hiasan dinding, gantungan kunci, miniatur candi. Salah satu benda menarik dan khas yang terdapat di Sumatera Utara dan dapat dikembangkan menjadi souvenir adalah Pustaha Laklak. Walaupun saat ini souvenir tersebut sudah diproduksi di beberapa tempat tetapi dapat dikatakan langka di pasar souvenir, terutama di kota Medan.

2. Pustaha Lak-Lak di Masa Lalu

a. Deskripsi Pustaha Laklak
Sudah meneliti 461 pustaha di beberapa perpustakaan di Eropa, seperti berbagai ilmu hadatuon di antaranya :
  1. Ilmu hitam (Pangulubalang, Pamunu Tanduk, Gadam, dll)
  2. Ilmu putih (Pagar, Sarang Timah, Porsimboraon, dll)
  3. Ilmu lain-lain (Tamba Tua, Dorma, Parpangiron, dll)
  4. Obat-obatan,
  5. Nujum,
  6. Dengan Perbintangan (Pormesa na sampulu dua, panggorda na ualu, pane na bolon, porhalaan, dan sebagainya),
  7. Dengan memakai binatang (Aji nangkapiring, Manuk Gantung, Porbuhiton, dan sebagainya),
  8. Nujum lain-lain (Rambu Siporhas, Panampuhi, Hariara Marsundung dilangit, Parombunan, dan sebagainya).
Dalam penulisan pustaha, para datu menggunakan sebuah ragam bahasa yang lazim disebut hata poda. Kata poda (pÄ›dah di dialek utara) dalam bahasa sehari-hari diartikan sebagai nasehat, tetapi dalam pustaha diartikan lebih mendekati instruksi atau petunjuk. Ragam hata poda yang hanya ada di pustaha merupakan sejenis dialek kuno rumpun bahasa Batak Selatan dan banyak bercampur dengan kata-kata yang dipinjam dari bahasa Melayu. Karena kekunoannya, dialek tersebut juga menjamin bahwa hanya seorang datu yang dapat mengerti isi pustaha. Kerahasiaan ini merupakan salah satu sebab isi pustaha sangat sukar dimengerti dan petunjuk-petunjuk yang diberikan pada umumnya hanya dapat dipahami oleh seseorang yang sudah memiliki pengetahuan mendalam mengenai masalah yang dibicarakan. Walaupun seorang datu harus menguasai bahasa poda sebelum ia mulai menyusun sebuah pustaha, hal itu tidak berarti bahwa bahasa yang dipakai pada pustaha- pustaha adalah murni hata poda. Tentu banyak kata dari masing-masing daerah ikut memperkaya bahasa yang dipakai dalam pustaha. 
Apabila dilihat dari segi aksaranya, penulisan pustaha menggunakan aksara Batak. Aksara/huruf Batak atau disebut “Surat Batak” adalah huruf-huruf yang dipakai dalam naskah-naskah asli suku Batak (Toba, Angkola/Mandailing, Simalungun, dan Karo). 
Aksara Batak dibagi menjadi 2 yaitu:
1. Ina ni surat
semua ina ni surat berakhir dengan bunyi /a/. Bunyi ini dapat diubah dengan menambah nilai fonetiknya. Terdapat urutan aksara dalam ina ni surat, di antaranya: a-ha-na-ra-ta- ba-wa-i-ma-nga-la-pa-sa-da-ga-ja. Namun urutan ini adalah ciptaan baru dan tidak memiliki landasan tradisional.
2. Anak ni surat
Anak ni surat merupakan pengubah yang disebut diakritik. Diakritik dalam anak ni surat diantaranya:
  • bunyi /e/ atau disebut ‘hatadingan’
  • bunyi /ng/ atau disebut ‘paminggil’
  • bunyi /u/ atau disebut ‘haborotan’
  • bunyi /i/ atau disebut ‘hauluan’
  • bunyi /o/ atau disebut ‘sihora’ atau ‘siala’
  • tanda mati untuk menghilangkan bunyi /a/ pada ina ni surat atau disebut ‘pangolat’.

b. Perkembangan Fungsi dan Makna Pustaha Laklak
Masyarakat Batak mengenal adanya mitos Si Boru Deak Parujar. Mitos ini berbentuk syair sastra lisan yang panjang dan indah yang menceritakan asal mula adanya manusia di tanah Batak. Mitos ini bermula dari seorang puteri Batara Guru yang bernama Si Boru Deak Parujar yang ingin melarikan diri karena dipaksa menikah oleh Batara Guru. Batara Guru merupakan aspek pertama dari Mulajadi Na Bolon sebagai Trimurti. Mulajadi Na Bolon mencakup tritunggal yaitu: 
  • Dewa Batara Guru
  • Dewa Soripada, dan 
  • Dewa Mangalabulan. 
Dalam pelariannya Deak Parujar melihat adanya 3 lapis jagad raya, diantaranya:
  1. Banua Ginjang (Benua Atas) yaitu langit, tempat Deak Parujar, Batara Guru, dan Dewa lainnya tinggal, yang disimbolkan dengan warna putih;
  2. Banua Tonga (Benua Tengah), disimbolkan dengan warna merah;
  3. Banua Toru (Benua Bawah), disimbolkan dengan warna hitam.
Setelah mengalami berbagai peristiwa, akhirnya Deak Parujar hidup di tanah yang nantinya akan menjadi bumi tempat dia dan keturunannya tinggal. Dalam tradisi lisan, masa Deak Parujar (7 keturunan) disusul oleh masa Si Raja Batak. Dari masa mitos ini kemudian beralih ke masa historis (silsilah manusia biasa/jolma). Pada perkembangan selanjutnya muncullah adanya marga-marga dalam suku Batak. Mitos-mitos lisan inilah yang ditanamkan dari generasi ke generasi.
Masyarakat Batak memang jarang menuliskan beberapa kejadian dalam bentuk sebuah tulisan. Hanya beberapa hal tertentu saja yang dituliskannya pada sebuah media, salah satunya dalam bentuk pustaha. Seperti yang sudah dijelaskan diatas, orang Batak menggunakan tulisannya hanya untuk 3 tujuan, yaitu: 
  1. ilmu kedukunan (hadatuon), 
  2. surat menyurat (termasuk surat ancaman, biasanya ditulis oleh para Raja), 
  3. dan ratapan.
Pustaha Laklak dikenal jauh sebelum pengaruh Islam dan kolonial datang ke wilayah Sumatera. Pada masyarakat yang masih mengenal kepercayaan alam, Pustaha Laklak digunakan untuk ilmu-ilmu kedukunan (hadatuan). Namun ketika pengaruh Islam dan kolonial masuk ke wilayah Sumatera, keberadaan pustaha ini makin lama makin berkurang. Hal ini disebabkan karena adanya pengaruh Islam dan Kristen yang membawa kepercayaan baru. Dalam tulisan Warisan Leluhur Sastra Lama dan Aksara Batak dijelaskan bahwa pada waktu ahli bahasa Belanda Herman Neubronner van der Tuuk mengadakan perjalanan ke Sipirok pada tahun 1852, beliau telah mencatat bahwa daerah tersebut sangat kekurangan pustaha, datu, dan babi sebagai akibat masuknya agama islam ke daerah tersebut. Enam tahun sebelumnya, Willer seorang civiel gezaghebber (pegawai pamongpraja) di Mandailing, juga sudah menulis bahwa di daerah Portibi dan Angkola tidak lagi terdapat pustaha, sedangkan di Mandailing sudah menjadi sangat jarang. Dijelaskannya bahwa kaum Padri berusaha sedapat-dapatnya untuk memusnahkan pustaha-pustaha tersebut. Ternyata bukan kaum Padri saja yang benci pada produk-produk para datu. Penginjil-penginjil Jerman bersama dengan pendeta-pendeta pribumi memilih jalan yang sama dan secara besar-besaran mereka membakar pustaha. Pada tahun 1920-an agama Kristen sudah memasuki daerah-daerah pedalaman termasuk Samosir, Dairi, dataran tinggi Karo dan Simalungun. Walaupun kebanyakan penduduk di daerah tersebut saat itu masih bertahan pada agama nenek moyangnya, bisa dipastikan bahwa pada waktu itu sudah hampir tidak ada lagi datu yang menulis pustaha.
Masyarakat Batak bukan merupakan masyarakat yang hidup terisolir karena dibatasi oleh kondisi geografis yang berbukit-bukit. Sistem adaptasi dan budaya yang berlaku memperlihatkan adanya interaksi dan akulturasi yang lama dengan peradaban-peradaban besar yang ada di Asia Tenggara. Dengan adanya pengaruh luar yang datang ke wilayah Batak, mengakibatkan adanya proses ‘revolusi kebudayaan’ di tanah Batak  yang mengakibatkan:
  1. Perubahan orientasi geografis dari pesisir barat beralih ke pesisir timur;
  2. Perubahan spiritual dari gagasan dunia akhirat agama asli beralih ke teologi Islam dan Kristen;
  3. Perubahan cara berfikir yang banyak terpengaruh mitologi dan paham magic, beralih ke pemikiran rasional-ilmiah;
  4. Perubahan dari ekonomi yang murni agraris dan tertutup ke arah cita-cita kemajuan (hamajuon) membuka pintu dan menyambut jaman baru (modern).

Adanya revolusi kebudayaan inilah yang mengakibatkan berkurangnya bukti-bukti kepercayaan masyarakat Batak ketika belum mendapat pengaruh asing. Keberadaan pustaha laklak pun semakin berkurang. Banyak pustaha yang dihancurkan karena dianggap sesat. Hal ini disebabkan karena perubahan cara berfikir masyarakat yang banyak terpengaruh oleh kepercayaan yang dibawa oleh pihak asing. Sampai saat ini keberadaan pustaha laklak sangat langka karena sebagian besar sudah dimusnahkan dan banyak di antaranya yang dibawa ke Eropa. Sebagian kecil lainnya disimpan di Museum Sumatera Utara serta sebagai koleksi di Perpustakaan Nasional.
Meskipun saat ini tidak ada lagi datu yang menuliskan pustaha, namun bagi masyarakat Batak pustaha masih dianggap sakral dan suci. Dalam konteks yang berbeda dengan para datu di beberapa pengrajin tanah Toba mencoba mereproduksi Pustaha Laklak dalam format yang berbeda tentunya. Pengrajin-pengrajin ini menyalin beberapa aksara Batak dalam sebuah lembaran kayu alim. Tidak ada unsur sakral ataupun suci seperti yang sering dilakukan para datu dalam menuliskan pustaha pada masa lalu.

3. Keberadaan Souvenir Pustaha Laklak

a. Sebuah Pelestarian Budaya Batak
Di beberapa tempat objek wisata khususnya di sekitar Danau Toba, sering kita melihat beberapa toko menjual beraneka ragam souvenir, yang salah satunya berupa Pustaha Laklak. Souvenir ini berupa lembaran-lembaran kertas yang dibuat dari kulit kayu alim yang dilipat-lipat. Lembaran-lembaran ini ditutup dengan kayu tebal yang diukir dengan relief binatang-binatang (biasanya binatang cicak). Lembaran-lembaran dari souvenir Pustaha Laklak ini dipenuhi dengan aksara-aksara Batak yang disertai dengan beberapa gambar sehingga hampir mirip dengan aslinya. Namun kalau diteliti lebih jauh tulisan-tulisan yang terdapat dalam lembaran-lembaran tersebut hanya berupa goresan saja dan tidak dapat dibaca seperti halnya Pustaha Laklak (yang asli).
Meskipun saat ini Pustaha Laklak dibuat dengan tujuan yang berbeda namun keberadaan pustaha ini dulu memiliki makna penting bagi masyarakat setempat. Pustaha Laklak merupakan hasil karya sastra Batak kuno yang saat ini keberadaannya sangat langka. Selain banyak yang dihancurkan karena pengaruh budaya asing dalam hal ini pengaruh Islam dan Kristen, kelangkaan Pustaha laklak juga disebabkan karena sebagian besar banyak yang dibawa ke Eropa. Hanya sebagian kecil saja yang tersisa yang kini masih tersimpan di Museum Sumatera Utara dan Perpustakaan Nasional di Jakarta.
Souvenir Pustaha Laklak dapat dijumpai di beberapa tempat terutama di sekitar wilayah objek wisata seperti Danau Toba dan Brastagi. Selain itu, beberapa toko souvenir di Medan yang mencoba menjadi distributor pustaha dimana pemiliknya mengambil stok langsung dari para pengrajin pustaha di daerah Toba.
Bahan yang digunakan dalam pembuatan souvenir Pustaha Laklak terbuat dari kulit kayu alim, sebuah pohon yang tumbuh di kawasan hutan dataran tinggi. Pohon alim (Aquilaria) banyak dijumpai di daerah Barus hulu, di sekitar Pardomuan, Kabupaten Dairi dan juga di daerah Pulau Raja, Kabupaten Asahan. Adapun alat tulisnya menggunakan tulang kerbau dan tinta hitam. Agar souvenir lebih mudah terjual dan terlihat lebih antik, laklak diolesi zat pewarna yang disebut permagan (kalium permanganat).

Terdapat beberapa hal yang patut disayangkan dalam produksi souvenir Pustaha Laklak. Kebanyakan Pustaha Laklak dan naskah-naskah yang dijual di Medan, Parapat, Brastagi dan Samosir adalah naskah tiruan yang teksnya hanya terdiri atas rangkaian huruf-huruf yang tidak berarti. Setelah di cek ke kampung pembuatannya seperti Sosor Tolong, yang jaraknya sekitar 5 km dari Tomok, ternyata para pengrajin hanya bisa menulis beberapa huruf saja, tetapi tidak mengerti artinya. Hasilnya adalah sebuah naskah yang teksnya dikarang oleh orang yang buta huruf yang kemudian dijual kepada masyarakat sebagai hasil ciptaan budaya Batak.

b. Souvenir Pustaha Laklak
Penjualan souvenir Pustaha Laklak ini dapat dikatakan sangat minim. Hanya beberapa buah saja yang dijual di beberapa toko di tempat-tempat objek wisata. Medan, sebagai ibu kota Sumatera Utara, tempat pertama kali wisatawan datang baik dengan sarana udara, laut maupun darat ternyata masih kurang menyediakan pengadaan souvenir Pustaha Laklak maupun souvenir-souvenir khas Batak lainnya. Seperti yang bisa kita jumpai di kawasan Kesawan Square, di jalan Ahmad Yani, hanya terdapat tiga toko saja yang menyediakan souvenir-souvenir khas Batak. Souvenir khas Batak yang sering dijajakan kebanyakan berupa kain ulos, hiasan-hiasan dinding seperti miniatur rumah Batak, gantungan kunci, kaos-kaos khas Medan, dan beberapa kerajinan tangan lainnya.
Dalam penyediaan stok barang souvenir Pustaha Laklak atau sering dikenal dengan nama “buku Batak”, masih sangat sedikit dan tidak setiap waktu bisa didapatkan. Setiap toko menyediakan tidak kurang dari sepuluh biji dengan beraneka ukuran dan harganya. Souvenir Pustaha Laklak yang dijual berkisar antara harga Rp.80.000 sampai dengan Rp.150.000 tergantung pada ukuran dan ketebalannya. Konsumen yang berminat membeli souvenir Pustaha Laklak ini kebanyakan wisatawan dari mancanegara. Adapun wisatawan domestik sendiri kurang begitu meminati souvenir ini. Hal ini tentunya sangat memprihatinkan mengingat pentingnya keberadaan Pustaha Laklak yang kini sudah sangat langka ditemukan.
Dalam hal kualitas, apabila dilihat dari isinya, pembuatan Pustaha Laklak ini masih jauh dari sempurna. Meskipun demikian, ide kreatif dari para pengrajin ini sangat inovatif. Meskipun mereka kurang atau tidak paham dalam menulis sebuah pustaha, namun paling tidak terdapat upaya untuk melestarikan warisan leluhur mereka. Dengan adanya pembuatan souvenir Pustaha Laklak ini, selain untuk meningkatkan perekonomian para pengrajin, juga sebagai ajang pengenalan kepada masyarakat umum tentang keberadaan Pustaha Laklak. Dengan demikian, masyarakat baik itu di wilayah Sumatera Utara maupun di luar Sumatera Utara memiliki antusiasme untuk mengenal dan mempelajari warisan nenek moyang masyarakat suku Batak, baik itu Batak Toba, Karo, Simalungun, Mandailing (Angkola), Dairi maupun Pakpak.

4. Penutup
Industri kreatif merupakan industri yang berasal dari pemanfaatan kreativitas, ketrampilan, serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan kerja dengan menghasilkan dan mengeksploitasi daya kreasi dan daya cipta industri tersebut. Hal ini dapat dilihat sebagai sebuah peluang untuk mengembangkan ide-ide kreatif yang nantinya dapat menjadi komoditas industri berkaitan dengan kekayaan budaya masyarakat setempat. Salah satu bentuk industri kreatif tersebut tertuang dalam pembuatan souvenir Pustaha Laklak.
Keberadaan Pustaha Laklak yang kini sudah sangat langka dan jarang sekali ditemukan karena sebagian besar warisan budaya Batak ini dibawa ke Eropa sehingga hanya beberapa saja yang kini kita miliki, perlu adanya pengembangan ide untuk menciptakan dan melestarikan keberadaanya. Meskipun tidak dalam bentuk aslinya, namun keberadaan souvenir pustaha laklak ini bisa memberikan sedikit pengetahuan kepada masyarakat tentang keberadaan pustaha di Sumatera Utara. Dengan adanya pembuatan souvenir Pustaha Laklak diharapkan mampu meningkatkan kecintaan kita terhadap warisan budaya dan ada upaya untuk melestarikannya.
Salah satu upaya melestarikan Pustaha Laklak adalah dengan mempelajarinya. Pembuatan souvenir pustaha dapat dijadikan motivator bagi kita untuk lebih banyak mempelajari budaya- budaya bangsa dan tidak melupakannya. Diharapkan juga para pengrajin-pengrajin souvenir Pustaha Laklak lebih banyak mempelajari aksara-kasara dan bahasa-bahasa Batak kuno sehingga dalam pembuatan souvenir pustaha, mereka dapat meningkatkan kualitas isinya. Selain itu, perlu juga peningkatan jumlah pengrajin yang profesional agar mampu meningkatkan kualitas souvenir Pustaha Laklak. Namun demikian, pengrajin-pengrajin pustaha sudah sangat inovatif dan kreatif dalam upaya melestarikan budaya mereka.

Horas